Intellectual Disability (Gangguan Fungsi Intelektual)

“Anak saya lambat belajar. Nilai sekolahnya selalu jelek, saya sering dipanggil ke sekolah saat terima rapor. Bahkan, dia sudah tidak naik kelas dua kali. Apakah anak saya tergolong keterbelakangan mental?”

Hai, Little Troops Partners 🙂 Pernah mengeluhkan hal yang sama atau mendapat keluhan serupa dari orang lain?

Artikel ini membahas Intellectual Disability atau gangguan fungsi intelektual. Di dalam dunia psikologi, kami tidak menggunakan istilah ‘keterbelakangan mental’ untuk menggambarkan kondisi anak-anak tersebut.  Untuk pembahasan lebih lanjut, silakan scroll ke bawah.

Selamat belajar, Partners.

Hasil gambar untuk learning difficulties
Sumber: http://visiontherapyblog.com/the-mystery-of-unidentified-learning-disabilities/

Intellectual Disability atau disingkat ID (selanjutnya kita sebut ID saja ya supaya mudah diingat) merupakan salah satu jenis gangguan yang dialami anak pada usia perkembangannya. Gangguan ini mencakup keterlambatan fungsi intelektual dan fungsi adaptif pada aspek kemampuan akademis, sosial, dan kemandirian.

Untuk mengatakan bahwa seorang anak memiliki ID, ketiga kriteria di bawah ini harus terpenuhi:

  1. Keterlambatan fungsi intelektual. Anak-anak yang memiliki ID mengalami kesulitan dalam proses berpikir, memecahkan masalah, membuat perencanaan, membuat keputusan, menalar, memahami pelajaran, dan mengingat pengetahuan yang pernah diperoleh. Adanya keterlambatan dalam fungsi intelektual ini harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan psikologi oleh psikolog klinis anak.
  2. Keterlambatan fungsi adaptif. Anak-anak yang memiliki ID mengalami kegagalan dalam memenuhi standar perkembangan serta sosial-budaya. Hal tersebut membuatnya kurang mampu hidup mandiri dan beradaptasi di lingkungan sosial. Mereka mengalami hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, misalnya dalam berkomunikasi, berteman, serta beraktivitas dengan mandiri.
  3. Kedua gangguan di atas terjadi pada usia perkembangan anak, dan biasanya mulai terlihat pada usia sekolah.

Jadi, apakah anak ibu pada ilustrasi di atas dapat dikatakan memiliki ID? Belum tentu. Anak ibu tersebut harus terlebih dahulu mendapatkan pemeriksaan psikologi untuk mengetahui gambaran fungsi intelektualnya. Hasil dari pemeriksaan tersebut akan menunjukkan indikasi apakah fungsi intelektual anak mengalami keterlambatan jika dibandingkan dengan anak seusianya. Selain itu, psikolog juga akan memeriksa fungsi adaptif anak melalui wawancara dan observasi.

Perlu Partners ingat, bahwa skor IQ saja tidak menentukan apakah seorang anak tergolong intellectually disable. Psikolog juga akan melakukan pemeriksaan terhadap kemandirian, kemampuan sosial, dan komunikasi anak sehari-hari untuk memastikan kondisinya.

ID berhubungan dengan sejumlah kelainan bawaan pada anak, seperti Down’s Syndrome, Lesch-Nyhan Syndrome, Celebral Palsydan berbagai kelainan genetis lainnya. Selain itu, ID dapat terjadi bersamaan dengan sindrom autisme, ADHD, depresif/bipolar, gangguan kecemasan, dan gangguan perkembangan saraf pada anak.

Demikianlah informasi mengenai Intellectual Disability.  Bila ada pertanyaan lebih lanjut atau usulan topik yang ingin dipelajari oleh Partners, silakan sampaikan pada kolom komentar di bawah.

Selamat melanjutkan aktivitas, Partners!

Salam semangat belajar,

E, your future clinical child psychologist.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s